TKDN 60% di 2027: Ujian Besar bagi Merek China di Pasar Mobil Listrik Indonesia

TKDN 60% di 2027: Ujian Besar bagi Merek China di Pasar Mobil Listrik Indonesia

Pemerintah Indonesia menetapkan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mobil listrik sebesar 60% mulai 2027. Angka ini naik dari 40% yang berlaku di 2026, dan akan terus meningkat ke 80% pada 2030. Bagi merek-merek China yang baru masuk Indonesia, ini bukan sekadar angka — ini soal bertahan atau keluar dari pasar.

Siapa yang Sudah Siap?

BYD menjadi contoh paling siap. Pabrik mereka di Subang, Jawa Barat, sudah beroperasi sejak September 2026 dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun dan investasi Rp16 triliun. Fasilitas seluas 126 hektare ini bukan sekadar merakit — BYD membangun ekosistem pemasok lokal di sekitarnya.

Wuling juga sudah punya fasilitas manufaktur di Cikarang yang beroperasi. DFSK-Seres dan VinFast termasuk dalam kelompok berani yang membangun pabrik sendiri. Merek-merek ini punya fondasi kuat untuk mengejar TKDN 60%.

Direktur Jenderal Ilmate Kemenperin, Setia Diarta, menyebut bahwa produksi baterai di dalam negeri menjadi kunci. "Ketika mereka sudah merakit baterai penuh di Indonesia, TKDN 60% sebenarnya bisa dicapai," ujarnya pada Oktober 2026. Artinya, merek yang sudah memproduksi baterai secara lokal punya keunggulan signifikan.

Siapa yang Masih Mengandalkan Maklon?

Di sisi lain, sejumlah merek China masih mengandalkan fasilitas perakitan pihak ketiga — khususnya PT Handal Indonesia Motor (HIM) di Purwakarta. Chery, Geely, BAIC, dan Jetour termasuk dalam kelompok ini.

Geely EX2, misalnya, memiliki TKDN 46,5% setelah dirakit di HIM. Aletra L8 EV mencapai 44%. Angka-angka ini sudah memenuhi target 2026, tapi jarak ke 60% cukup lebar.

Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari ITB, menjelaskan bahwa lonjakan TKDN dari 40% ke 60% tidak bisa dicapai hanya dengan meningkatkan aktivitas perakitan. "Lokalisasi sel dan battery pack, serta proses stamping, welding, dan painting, punya pengaruh besar. Proses ini sulit dibangun di atas lini milik pihak lain yang dipakai bersama beberapa merek sekaligus," katanya.

Dampak ke Harga dan Konsumen

TKDN 60% akan memengaruhi struktur harga mobil listrik di Indonesia. Merek yang tidak memenuhi target ini kehilangan akses ke insentif pemerintah — termasuk penghapusan PPnBM dan subsidi pembelian. Tanpa insentif, harga mobil listrik bisa naik Rp20-50 juta per unit, tergantung segmen.

Bagi konsumen, ini berarti beberapa merek mungkin menaikkan harga atau bahkan mengurangi varian yang dijual di Indonesia. Merek yang sudah memenuhi TKDN justru bisa menurunkan harga karena mendapat insentif penuh.

Yannes menilai TKDN akan bekerja sebagai mekanisme seleksi fiskal. "Bukan lewat pelarangan berjualan, sehingga penyaringannya terjadi di struktur harga. Merek yang sekadar menjahit dan berdagang akan sulit beranjak jauh dari kisaran 40%," ujarnya.

Peluang Indonesia Jadi Basis Produksi EV Setir Kanan

Gaikindo melihat peluang besar bagi Indonesia menjadi basis produksi kendaraan listrik setir kanan untuk pasar global. Produsen China sebelumnya hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tapi karakteristik setir kanan bisa menjadi keunggulan tersendiri.

"Kita punya kapasitas industri 2,6 juta unit per tahun, belum pernah dioptimalkan sampai penuh. Baru sekitar 60%," kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara. Artinya, masih banyak ruang untuk menarik investasi manufaktur.

Kapasitas produksi yang belum terpakai ini bisa dimanfaatkan oleh merek-merek yang serius berinvestasi. Indonesia bukan hanya pasar 270 juta penduduk — ini bisa jadi hub ekspor EV setir kanan ke Asia Tenggara, Australia, dan Afrika.

Merek Baru yang Datang di 2026

Tantangan TKDN 60% semakin relevan karena banjir merek baru di 2026. GIIAS 2026 memperkenalkan BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky, dan Zeekr ke pasar Indonesia. Leapmotor B10 dan C10 sudah dijual mulai Rp449 juta.

Pertanyaan besarnya: apakah merek-merek baru ini punya rencana investasi jangka panjang, atau hanya ingin meraup pasar sebelum regulasi TKDN 60% berlaku? Gaikindo mengingatkan bahwa semua merek yang masuk ke program insentif pemerintah sudah mengetahui tahapan TKDN sejak awal.

Investasi BYD di Subang dan pabrik baterai CATL-IBC di Karawang menunjukkan bahwa beberapa pemain sudah serius. Tapi bagi yang masih "testing the water" dengan fasilitas maklon, waktu hampir habis.

Apa yang Perlu Dilakukan Merek yang Belum Siap?

Ada beberapa jalur yang bisa ditempuh:

  • Bangun pabrik sendiri: Investasi besar tapi kontrol penuh atas proses dan TKDN. BYD, Wuling, dan DFSK sudah membuktikan jalur ini.
  • Kolaborasi dengan pemasok baterai lokal: Kemenperin menyebut bahwa produksi baterai di dalam negeri bisa menjadi "shortcut" menuju TKDN 60%.
  • Perdalam lokalisasi komponen: Stamping, welding, dan painting lokal bisa menambah poin TKDN signifikan.
  • Joint venture dengan produsen lokal: Memanfaatkan fasilitas dan jaringan pemasok yang sudah ada.

Yang jelas, strategi "masuk dulu, investasi nanti" sudah tidak bisa diandalkan. TKDN 60% bukan ancaman — ini seleksi alam industri otomotif Indonesia. Merek yang serius akan bertahan dan tumbuh. Yang tidak, akan tersaring oleh struktur biaya dan harga.