Riset Populix: Konsumen Menengah Atas Siapkan Rp493 Juta untuk Mobil Berikutnya

Populix merilis studi bertajuk "Decoding Indonesia's Upper MZs Consumer Signals in the Passenger Car Market" yang memetakan preferensi konsumen mobil Indonesia. Penelitian ini menggali jawaban 800 pemilik kendaraan pribadi dari kalangan menengah atas yang membeli mobil dalam lima tahun terakhir. Hasilnya dipaparkan di Jakarta pada Senin, 2 November 2026.

Studi ini menangkap pergeseran selera generasi milenial dan Gen Z yang kini menguasai hampir separuh populasi Indonesia. Harga dan desain tetap jadi pertimbangan utama, tapi teknologi, inovasi, dan kualitas layanan purna jual makin menentukan keputusan pembelian.

Siapa yang diteliti

Populix menggali data dari 800 pemilik kendaraan pribadi dari kalangan menengah atas yang melakukan pembelian dalam lima tahun terakhir. Studi memetakan tiga hal sekaligus: preferensi mereka, minat pembelian berikutnya, serta persepsi terhadap berbagai merek mobil penumpang di Indonesia. Generasi milenial dan Gen Z menjadi fokus karena kelompok ini kini menguasai hampir separuh populasi Indonesia.

Hasilnya menunjukkan perilaku beli yang berlapis. Konsumen tidak lagi membeli mobil hanya untuk kebutuhan transportasi. Pengalaman berkendara, nilai yang ditawarkan produk, dan reputasi pabrikan secara global ikut menimbang keputusan.

Budget Rp493 juta untuk mobil berikutnya

Sekitar enam dari sepuluh konsumen yang berencana membeli mobil dalam setahun ke depan menjadikannya kendaraan tambahan. Mobil baru itu tidak selalu menggantikan kendaraan lama, melainkan melengkapi kebutuhan mobilitas keluarga maupun aktivitas harian.

Dari sisi anggaran, rata-rata dana yang disiapkan mencapai Rp493 juta. Nominal tersebut berada di batas atas segmen mobil menengah dengan rentang harga Rp200 juta sampai Rp500 juta, sekaligus mendekati kategori menengah atas di kisaran Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Performa mesin, desain futuristik, kualitas premium, dan reputasi pabrikan secara global ikut memengaruhi pertimbangan pembelian.

Satu dari lima responden tertarik mobil listrik

Mobil bermesin konvensional masih mendominasi pasar. Minat terhadap kendaraan elektrifikasi, bagaimanapun, mulai tumbuh. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, terutama milenial muda dan Gen Z berusia 25-35 tahun.

"Mobil konvensional saat ini masih mendominasi pasar, meskipun mobil listrik mulai mendapatkan momentum. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, khususnya milenial muda dan Gen Z di rentang usia 25-35 tahun," ujar Associate Research Director Populix, Susan Adi Putra.

Sekitar seperempat responden menyatakan sangat tertarik membeli mobil listrik. Untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), tiga merek paling diminati adalah BYD dengan 49 persen, Hyundai 46 persen, dan Wuling 32 persen.

Kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya juga berkurang. Jika studi tahun sebelumnya aspek ini masih jadi pertimbangan penting, kini 72 persen responden mengaku percaya terhadap ketersediaan infrastruktur pengisian daya.

Toyota, Hyundai, dan Daihatsu memimpin kepuasan pelanggan

Populix memetakan kepuasan konsumen terhadap delapan merek mobil penumpang yang paling banyak dibeli responden dalam lima tahun terakhir. Toyota, Hyundai, dan Daihatsu menempati tiga posisi teratas.

Faktor yang membentuk kepuasan berbeda-beda tiap merek. Kenyamanan berkendara jadi aspek yang diperhatikan secara umum. Pengguna Hyundai dan Mitsubishi menilai keandalan serta kinerja mesin sebagai pertimbangan penting. Pengguna Wuling, Hyundai, dan BYD mengapresiasi desain modern. Di sisi lain, efisiensi energi jadi keunggulan yang diperhatikan pengguna Suzuki dan Daihatsu.

Purna jual jadi penentu kepuasan

Pengalaman setelah pembelian tidak kalah bobotnya. Mayoritas konsumen mengharapkan kualitas pengerjaan bengkel, ketersediaan suku cadang, dan profesionalisme staf servis saat menjelaskan permasalahan kendaraan. Dalam memenuhi ekspektasi tersebut, Toyota, Honda, dan Hyundai menempati tiga posisi teratas.

Citra tiap merek di mata konsumen

Studi ini juga memetakan persepsi konsumen terhadap masing-masing merek:

  • BYD diasosiasikan dengan inovasi, teknologi mutakhir, dan desain premium.
  • Daihatsu dikenal lewat layanan purna jual dan jaringan diler yang luas.
  • Honda dan Toyota memiliki citra kuat pada nilai jual kembali dan performa mesin.
  • Hyundai menawarkan paket lengkap dari sisi keamanan, kenyamanan, fitur, hingga penggunaan.
  • Mitsubishi diasosiasikan dengan kualitas kendaraan yang solid dan kenyamanan berkendara.
  • Suzuki dikenal lewat layanan purna jual serta garansi dan perawatan.
  • Wuling dianggap pionir di segmen mobil listrik Indonesia.

Kendaraan tambahan mengubah strategi pabrikan

Fakta bahwa enam dari sepuluh pembeli berencana menambah, bukan mengganti, membuka ruang bagi pabrikan untuk memposisikan produk sebagai pelengkap gaya hidup keluarga. SUV dan MPV dengan fitur keselamatan lengkap mendapat tempat di garasi kedua, sementara mobil lama tetap dipakai untuk kebutuhan harian. Segmen harga Rp200 juta sampai Rp500 juta akan jadi medan paling ramai, mengingat budget rata-rata konsumen berada di batas atas rentang itu.

Apa artinya bagi pasar Indonesia

Minat 49 persen terhadap BYD sejalan dengan capaian merek itu di data penjualan. BYD Atto 1, misalnya, tembus dua besar mobil terlaris September 2026. Merek China ini juga masuk lima besar wholesales nasional hanya dalam waktu singkat.

Di sisi lain, dominasi Toyota dan Daihatsu pada kepuasan pelanggan menunjukkan mengapa pangsa pasar mereka bertahan. Pembahasan lebih luas soal pergeseran ini ada di artikel pangsa pasar Astra turun ke 49,3 persen.

Bagi konsumen yang sedang mempertimbangkan mobil listrik, pilihan modelnya makin beragam dari harga entry sampai kelas menengah. Perbandingan seperti adu SUV hybrid ringkas 2026 bisa membantu menimbang opsi sebelum memutuskan. Aturan komponen dalam negeri yang berlaku pada 2027 juga akan memengaruhi harga dan pilihan model ke depan.