BYD M6 DM-i Ambil Separuh Pasar PHEV Indonesia, Pesaing China Mulai Menanjak
Pasar mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) Indonesia melonjak sepanjang 2026. Data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi PHEV Januari-September 2026 mencapai 10.264 unit. Angka itu hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang berhenti di 3.316 unit, setara kenaikan 209,5 persen.
Satu model menyumbang separuh dari total tersebut: BYD M6 DM-i. Di belakangnya, pabrikan China lainnya berebut sisa pasar, sementara model Jepang dan Eropa hanya kebagian porsi kecil. Berikut rinciannya.
BYD M6 DM-i memimpin dengan 5.121 unit
MPV plug-in hybrid ini mengumpulkan distribusi 5.121 unit sepanjang Januari-September 2026. Jaraknya dengan pesaing terdekat lebar. Chery Tiggo 8 CSH berada di posisi kedua dengan 2.066 unit, kurang dari setengah torehan M6 DM-i.
Keunggulan M6 datang dari sistem DM-i yang mengandalkan motor listrik untuk pemakaian harian dan mesin bensin sebagai penambah daya sekaligus penggerak di kecepatan tinggi. Konsumen tidak perlu bergantung pada stasiun pengisian daya untuk perjalanan antarkota, dan konsumsi bahan bakar di dalam kota tetap irit. Rumus itu yang membuat penjualannya melesat sejak model ini masuk pasar Indonesia.
Sepuluh besar dikuasai merek China
Daftar 10 PHEV terlaris Januari-September 2026 berikut ini seluruhnya diisi merek asal China:
- BYD M6: 5.121 unit
- Chery Tiggo 8 CSH: 2.066 unit
- Chery Tiggo 9 CSH: 550 unit
- Jetour T1 i-DM: 447 unit
- Geely Starray EM-i: 364 unit
- Wuling Eksion PHEV: 361 unit
- Wuling Darion PHEV: 324 unit
- Jaecoo J7 SHS: 307 unit
- Jaecoo J8 SHS: 267 unit
- Jetour T2 i-DM: 184 unit
Chery, Jetour, dan Wuling masing-masing menempatkan dua model. Persaingan terjadi antar-merek China sendiri, dan pembeli PHEV hari ini praktis memilih dari jajaran mereka.
Model Jepang dan Eropa tersisih di bawah
Di luar 10 besar, angkanya mengecil tajam. Mazda CX-80 PHEV membukukan 98 unit, disusul DFSK e5 dengan 88 unit dan Lexus RX450h+ Luxury dengan 45 unit. Deepal S05 REEV berhenti di 29 unit. Model Eropa makin tipis: Volvo XC90 PHEV 8 unit, BMW XM 2 unit, Volvo XC60 PHEV 2 unit, dan Lexus NX 450h+ 1 unit.
Harga jadi penjelasan paling masuk akal. PHEV China ditawarkan pada rentang Rp300 jutaan sampai Rp700 jutaan, sedangkan PHEV Eropa dan Lexus bermain di atas Rp1 miliar. Beda selisihnya bisa dua sampai tiga kali lipat.
September melandai, Jetour dan Jaecoo menanjak
Lonjakan tahunan itu tidak mulus di bulan terakhir. Distribusi BYD M6 DM tergelincir 39,9 persen pada September 2026 menjadi 698 unit dari 1.161 unit pada Agustus. Penurunan itu tetap tidak menggeser posisinya sebagai PHEV terlaris bulan itu.
Pesaingnya bergerak ke arah berlawanan. Jetour mencatat kenaikan lewat dua model: T1 i-DM mengirim 142 unit dan T2 i-DM 130 unit. Gabungan keduanya naik dari 177 unit pada Agustus ke 272 unit pada September. Jaecoo mengirim 123 unit PHEV pada September, naik dari 83 unit bulan sebelumnya, lewat kontribusi J7 dan J8.
Pola ini menarik karena penurunan M6 DM terjadi saat pasar PHEV secara keseluruhan melandai. Pembeli yang menunggu model selain BYD mulai mendapat pilihannya.
Kenapa PHEV melesat pada 2026
Beberapa faktor bertemu di tahun ini. Harga bahan bakar yang bertahan tinggi membuat konsumen mencari alternatif irit tanpa menanggung kecemasan jarak tempuh mobil listrik murni. PHEV menjawab dua kebutuhan itu sekaligus: mesin listrik untuk rute harian dan mesin bensin untuk perjalanan jauh.
Infrastruktur pengisian daya juga belum merata. Rasio mobil listrik terhadap stasiun pengisian umum di Indonesia masih jauh dari ideal, dan itu memperkuat daya tarik PHEV yang tidak bergantung pada colokan. Di sisi lain, pemerintah sedang merancang insentif nonfiskal untuk kendaraan hybrid dan PHEV yang menambah alasan konsumen menunggu sebelum memutuskan.
Kelas harga memainkan peran besar. PHEV China masuk di rentang Rp300 jutaan sampai Rp700 jutaan, wilayah yang selama ini diisi mobil bensin konvensional. Pembeli di segmen itu mendapat teknologi elektrifikasi tanpa melompat kelas harga.
Perkembangan segmen ini juga mempengaruhi perhitungan pabrikan soal TKDN. Sebagian besar PHEV di daftar atas masih diimpor utuh, dan aturan kandungan lokal yang mulai berlaku pada 2027 akan menuntut pergeseran produksi. Merek yang sudah menyiapkan pabrik atau perakitan lokal akan lebih siap menghadapi perubahan aturan tersebut.
Apa artinya bagi pembeli
Persaingan di segmen PHEV makin rapat, dan itu kabar baik untuk konsumen. Pabrikan saling menawarkan fitur, jaminan baterai, dan harga yang lebih agresif. Sebelum memilih, bandingkan dulu jarak tempuh mode listrik murni, kapasitas baterai, dan ketersediaan bengkel resmi di kota Anda.
Sebelum menandatangani surat pesanan, tiga hal ini perlu Anda pastikan. Pertama, garansi baterai: berapa lama dan berapa kilometer, dan apakah mencakup degradasi kapasitas. Kedua, biaya servis berkala dan ketersediaan bengkel resmi di kota tempat Anda tinggal. Ketiga, jarak tempuh mode listrik murni versi pemakaian nyata, bukan klaim pabrikan, karena angka uji biasanya lebih optimistis dari kondisi lalu lintas harian.
Nilai jual kembali juga pantas dihitung sejak awal. Segmen PHEV masih baru, dan harga bekasnya belum terbentuk sepanjang mobil bensin. Konsumen yang membeli tahun ini pada dasarnya masuk ke pasar yang aturan mainnya masih terus berubah.
Satu catatan ke depan: pemerintah sedang mengkaji insentif untuk kendaraan hybrid dan PHEV. Bila terealisasi, harga PHEV bisa bergerak makin kompetitif. Di sisi lain, syarat TKDN untuk mobil listrik mulai 2027 akan menguji ketahanan merek China di pasar Indonesia.