LCGC Kehilangan Pembeli, Pemerintah Kejar Insentif Hybrid: Bebas Ganjil Genap dan Keringanan Pajak
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat pergeseran besar di segmen mobil murah. LCGC yang dulu menguasai pasar kini kehilangan pembeli ke kendaraan listrik. Menanggapi hal itu, Kementerian Perindustrian menyiapkan insentif untuk mobil hybrid, plug-in hybrid, dan range extended electric vehicle (REEV).
Pangsa LCGC Turun dari 24 Persen
Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengenang masa kejayaan segmen ini. Program LCGC yang diluncurkan sekitar 2012 sampai 2014 berhasil besar. Pangsa pasarnya pernah menyentuh 24 persen dari total penjualan mobil nasional.
Kini angkanya menyusut. Putu menunjuk satu penyebab utama: tren kendaraan listrik yang naik menekan penjualan LCGC dan mobil konvensional lain. Konsumen, terutama di perkotaan, mulai memasukkan mobil listrik dalam daftar pertimbangan mobil pertama mereka.
Putu juga membuka jalan baru untuk segmen mobil murah. Menurut dia, mobil murah ke depan tidak wajib bermesin pembakaran dalam. Teknologi hybrid maupun plug-in hybrid bisa mengisi posisi itu, selama harganya tetap terjangkau bagi pembeli baru.
Menperin Ajukan Insentif Fiskal dan Non-Fiskal
Menteri Perindustrian M Sarmuji berencana bertemu Menteri Keuangan sebelum Oktober 2026 berakhir. Dalam pertemuan itu dia mengajukan insentif untuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid, dan REEV. Usulan ini muncul usai Sarmuji menerima kunjungan Gaikindo di kantor Kemenperin pada 21 Oktober 2026.
Rinciannya sebagai berikut.
- Insentif fiskal berupa keringanan pajak. Sarmuji menegaskan besarannya tidak harus sama dengan yang diterima mobil listrik berbasis baterai.
- Insentif non-fiskal berupa keringanan administrasi di kota, pembebasan aturan ganjil genap, parkir khusus, dan fasilitas pengisian daya.
Sarmuji menargetkan pembahasan tuntas tahun ini. Bila tidak memungkinkan, realisasinya paling lambat awal tahun depan. "Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik," katanya soal waktu pengajuan.
Moeldoko: Hybrid Masuk Kategori EV
Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko mendukung usulan tersebut. Menurut dia, mobil hybrid tetap berkontribusi mengurangi konsumsi bahan bakar minyak dan emisi CO2. Karena itu, Periklindo memasukkan hybrid ke dalam kategori kendaraan listrik.
Moeldoko menilai insentif fiskal maupun non-fiskal mempercepat adopsi kendaraan ramah linggungan di Indonesia. Kebijakan zona khusus bagi pengguna mobil listrik termasuk yang dia dorong.
Data Pasar yang Mendorong Langkah Ini
Angka penjualan menjelaskan kenapa pemerintah bergerak cepat. Wholesales mobil Januari sampai September 2026 mencapai 679.020 unit, naik 21 persen dibanding periode sama tahun lalu. Penjualan ritel naik 15,4 persen menjadi 676.223 unit.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut 70 sampai 80 persen penjualan masih datang dari segmen harga di bawah Rp300 juta. Tekanan daya beli kelas menengah membuat segmen itu jadi tulang punggung pasar, dan di situlah mobil listrik murah mulai masuk.
Di sisi lain, penjualan mobil listrik berbasis baterai melonjak. Wholesales BEV Januari sampai September 2026 tembus 117.218 unit, naik 112,25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Gaikindo sendiri membidik penjualan nasional 850.000 unit tahun ini. Angka 1 juta unit terakhir tercapai pada 2023.
Apa Dampaknya untuk Anda yang Mencari Mobil Pertama
Pembeli mobil pertama punya dua pintu sekarang. Pintu pertama berisi LCGC konvensional yang harganya turun di pasar bekas karena permintaan melemah. Pintu kedua berisi hatchback listrik murah seperti BYD Atto 1 dan GAC AION UT, plus hybrid yang menunggu insentif.
Bila insentif hybrid terealisasi, model seperti MG ZS Hybrid+ di Rp299 juta akan mendapat dorongan harga. Langkah Toyota memproduksi baterai hybrid lewat kerja sama dengan CATL senilai Rp1,3 triliun juga menyiapkan pasar untuk momen itu.
Yang jelas, definisi mobil murah di Indonesia sedang ditulis ulang. Pangsa mobil bensin yang turun ke 75 persen menandai babak baru sebelum insentif hybrid keluar.